Apakah Menikah itu Sangat Sulit Jika dilihat Dari Sisi Islam? Rumah dan Harta Bukan Syarat Utama!

Banyak orang menunda-nunda pernikahan karena alasan menunggu mapan. Atau belum menemukan pria yang sudah mapan. Dengan kata lain, punya jabatan bagus, punya rumah, punya kendaraan, dan lainnya. Padahal dalam agama Islam, menikah itu jangan ditunda-tunda karena alasan belum mapan. Karena sejatinya menikah dalam Islam tidak dibuat sulit.


Masalah finansial seringkali menjadi kegusaran kaum lelaki sebelum berani menghadap orangtua perempuan. Karena lumrahnya pihak orangtua perempuan pasti akan melontarkan seperti di mana kamu bekerja, berapa gajimu sebulan, apakah sudah menjadi karyawan tetap, dan lain-lain.

Memang wajar jika orangtua menginginkan anak perempuannya hidup nyaman dan terjamin pasca menikah. Namun, ingatlah kemapanan tidak menjadi jaminan kebahagiaan. Dalam Islam, tidak ada aturan yang menyatakan bahwa mapan adalah keharusan sebelum menikah. Yang lebih penting adalah siap bertanggung jawab dan berusaha memenuhi nafkah untuk istri dan anak kelak.

Stigma “menikah setelah mapan” juga dipicu oleh mahalnya biaya pernikahan di kalangan masyarakat sekitar tempat tinggal. Menikah membutuhkan biaya hingga puluhan bahkan ratusan juta untuk menggelar pesta. Hal itu seolah telah menjadi lumrah kalau saat pesta pernikahan harus ada makanan yang banyak, dekorasi yang bagus, fotograper profesional, hiburan, dan banyak lagi. Belum lagi keinginan untuk bulan madu.

Padahal esensi menikah itu sendiri bukan soal pesta yang mewah, melainkan perjuangan bersama. Beruntunglah kamu jika pasanganmu bersedia menikah dan merajut kehidupan baru mulai dari nol. Jika kamu masih menunggu mapan untuk menikah, artinya kamu masih meletakkan standar kebahagiaan pada harta. Memang seringkali kita mendengar pasangan bercerai karena masalah ekonomi. Namun, itu tak jadi standar baku kalau kemapanan adalah keharusan sebelum menikah. Intinya adalah pasangan harus sama-sama berkomitmen dalam menjaga hubungan.

Sebagai seorang Muslim yang beriman, kita tidak boleh meragukan firman Allah SWT dalam QS. An-Nuur ayat 32: “Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

Bukankah tidak ada yang mati kelaparan saat berpuasa? Juga tidak ada yang jatuh miskin karena bersedekah? Dalam sebuah pernikahanpun, Allah SWT akan membukakan pintu rezeki yang seluas-luasnya. Apalagi jika kita meniatkan pernikahan itu sebagai ibadah. Mereka yang menikah sebelum mapan justru banyak yang mengatakan bahwa rezeki terasa lebih mudah mengalir setelah menikah.

Selain itu, perjuangan bersama dari nol bersama pasangan untuk mapan bersama akan membangun pondasi rumah tangga yang kuat. Jadi jangan jadikan kemapanan sebagai penghalang untuk menikah. Niatkanlah pernikahan itu untuk ibadah, yang dicari adalah berkahnya tanpa perlu memaksakan diri menggelar resepsi yang mewah.